• Latest News

    Menguak Hoax Jokowi Keturunan PKI (Bag. 1)





    Saat Pilpres 2014 isu Jokowi PKI sudah mulai dihembuskan. Awalnya dihembuskan oleh timses partai pendukung Prabowo (Purn) Suryo Prabowo dan kemudian dikicaukan oleh sekretaris timses Fadly Zon dan juga terus ditiupkan oleh (purn) Mayjen Kivlan Zen, Postingan yang paling banyak beredar adalah foto yang menyatakan Jokowi mengunjungi makam Boris Yaltsin tahun 2006.


    Tak kurang orang sekaliber anggota DPR dari partai Demokrat Ramadhan Pohan ikut ikutan mengaungkannya di sosial media, tanpa melakukan cross check terlebih dahulu. Dan bodohnya baru kemudian mereka menyadari kebodohannya sendiri, karena kemudian  mereka sadari bahwa Boris Yaltsin wafat di tahun 2007. bagaimana mungkin ada orang mengunjungi makamnya sebelum yang bersangkutan wafat, sungguh kebodohan yang sangat luar biasa, meskipun akhirnya mereka meralat tapi apa daya kebodohan tersebut sudah terekam oleh screen shoot nitizen saat itu.
















    Dan tak kalah konyolnya justru foto Fadly Zon yang berziarah ke makam Karl Marx pun akhirnya ikut pula tersebar. Sangat luar biasa konyol blunder  dari keji fitnah yang mereka lontarkan saat itu.
















    Jokowi juga sudah membantah isu tersebut bahwa keluarganya terafiliasi dengan partai terlarang di negara ini PKI, Jokowi bahkan mengungkapkan isu tersebut adalah penghinaan nasionalisme dirinya dan keluarga. Berikut petikan pernyataan Jokowi menanggapi isu miring tersebut "Isu yang menyebut saya PKI adalah penghinaan. Berulangkali saya jelaskan bapak & ibu saya itu dua duanya haji, keluarga saya sudah jelas, orang juga sudah kenal semua kakek saya Lurah dari Karanganyar, kalau kakek dari ibu adalah pedagang kecil, mau sampai kakek canggahpun sama alurnya seperti itu". ujar beliau.

    Paska terpilihnya Jokowi sebagai presiden ke 7 Indonesia ternyata fitnah keji inipun tak surut jua bahkan makin terus dikembangkan. Tentu saja ini dimaksudkan untuk menjatuhkan kredibilitas pemerintah. Seperti tak tau malu meski sudah tersebar bahwa isu PKI hanyalah bualan saat pilpres 2014 bahkan Jokowi yang saat itu dengan segala kerendahan hatinya mau mengunjungi rivalnya Prabowo untuk mengajak ke alam kesejukan untuk membangun bangsa ini secara bersama sama, itupun tak menyurutkan pembenci untuk melanjutkan fitnah keji yang dulu pernah dilontarkan.

    Kembali publik di hebohkan dengan potongan berita bahwa Presiden Joko Widodo akan meminta maaf kepada keluarga PKI. Untuk itu pihak Istana sudah melakukan klarifikasi bahwa berita tersebut sama sekali tidak benar . berikut link klarifikasi tersebut
    http://nasional.kompas.com/read/2015/09/22/11593891/Kepada.Muhammadiyah.Jokowi.Bantah.Akan.Minta.Maaf.Terkait.Masalah.PKI















    Tapi lagi lagi isu ini tak selesai sampai di sini saja, kembali fitnah keji ini terus di lancarkan. Kali ini melalui mantan Panglima Kostrad (Purn) Mayjen Kivlan Zen yang membuat pernyataan yang mengejutkan dalam Simposium Anti PKI. Dalam pernyataan beliau melalui Simposium tersebut beliau menyampaikan " Ingat Kantor PKI , di samping Hotel Acacia, jalan Matraman sudah mulai di renovasi seolah olah dikatakan itu kantor milik PT, itu mereka akan bangkit, disitulah PKI, di depan itu indikasi kalau mereka sudah bangun." ujar Kivlan di acara Simposium Nasional berjudul " Mengamankan Pancasila Dari Ancaman Kebangkitan Partai Komunis Indonesia & Ideologi Lain" Rabu, 1 Juni 2016.
    Akan tetapi setelah di telusuri ternyata markas yang di maksud sang purnawirawan TNI tersebut hanyalah berupa gudang kosong yang tak terawat, bahkan warga sekitar menampik bahwa gedung tersebut adalah markas PKI.
    http://news.liputan6.com/read/2522715/inikah-markas-pki-di-kramat-raya-menurut-kivlan-zen
    Demikian penampakkan gedung tersebut.












    Disaat yang sama Kivlan juga menyampaikan pimpinan PKI tersebut bernama Wahyu Setiaji, demikian kutipannya ' Mereka sudah membentuk struktur partai, mulai tingkat pusat sampai desa, pimpinanya Wahyu Setiaji." Kivlan juga menambahkan "PKI bangkit 2 minggu yang lalu dan mereka sudah menyiapkan 15 juta pendukung."
    Tapi hingga saat ini orang yang bersangkutan yang bernama Wahyu Setiaji belum bisa ditampilkan sama sekali. Meskipun Kivlan menyatakan karena takut yang bersangkutan melarikan diri tapi hal yang sangat aneh orang yang di dukung 15 juta bisa hilang sama sekali dari bumi. Jumlah 15 juta pendukung atau hampir setara dengan orang yang memilih Partai Golkar dalam Pemilu 2014 benar benar tak kasat mata. Bahkan hingga hari ini pun tokoh fiktif yang dimaksudpun belum menampakkan kehadirannya. Sungguh sebuah kekonyolan tingkat dewa yang justru dikemukakan oleh seorang setingkat purnawirawan Jendral.
    http://nasional.kompas.com/read/2016/06/02/15423391/menurut.kivlan.zen.wahyu.setiaji.anak.tokoh.pki.njoto
    Demikian penampakan Wahyu Setiaji hasil penelusuran penulis.












    Bukankah seorang Jendral seharusnya paham bahwa UU Republik Indonesia No 27 Tahun 1999 Tentang Perubahan Kitab Undang Undang Hukum Pidana Yang Berkaitan Dengan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara jelas jelas mencantumkan pembubaran PKI dan menyatakan partai tersebut sebagai partai terlarang bahkan mengembangkan ajaran paham Komunis, Marxisme dan Leninisme adalah dilarang. Bila memang benar Mayjen Kivlan Zen benar benar mengetahui memiliki data akurat tentang kebangkitan PKI sudah seharusnya dilimpahkan ke pihak berwajib untuk ditindak lajuti, bukan dengan secara seronok memainkan isu tersebut di hadapan publik.Adalah perbuatan yang melanggar hukum bila mengetahui, memiliki data kongrit tentang suatu kejahatan dalam hal ini tentang kebangkitan partai terlarang PKI justru malah disembunyikan yang bisa berarti sama saja dengan melindungi keberadaan PKI. 
    Tentu saja isu tak sedap ini di tanggapi serius oleh Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan yang membantah pernyataan Kivlan Zen tersebut, " Saya tidak punya informasi dan saya punya kuping, mata dan badan intelijen saya tanya dan belum temukan itu' kata Luhut di kantornya
    https://www.merdeka.com/peristiwa/bantah-kivlan-zein-luhut-sebut-bin-belum-temukan-kebangkitan-pki.html
    Senada dengan hal tersebut Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafly Amar menanggapi meminta kepada masyarakat luas tetap tenang mendengar tentang pernyataan Kivlan tentang kebangkitan PKI, meskipun begitu dia juga menghimbau agar juga mewaspadai kemungkinan yang akan terjadi. Dan meminta Kivlan melaporkan kepada aparat keamanan sehingga bisa ditindak lanjuti.
    Himbauan untuk tetap tenang juga di sampaikan oleh Menteri Hukum & Ham Yasonna Laoly ia menyatakan Kivlan hanya mengarang cerita saja, dan tidak perlu ditanggapi dengan kekwatiran berlebihan, "Sudahlah enggak usah ditanggapi itu, ngarang ceritanya." ujar beliau
    https://www.merdeka.com/peristiwa/tudingan-kivlan-zen-soal-pki-bangkit-bikin-panas-pemerintah-dan-tni.html
    Apakah Kivlan berhenti dengan upayanya meyakinkan masyarakat dengan isu PKInya sampai disitu tentu saja tidak. Dia terus berupaya meyakinkan masyarakat tentang kebangkitan PKI meskipun dengan segala kekonyolan ceritanya yang sama sekali tidak terbukti sama sekali hingga hari ini. Hanya rekaan minim data atau bahkan hanya berupa cocology semata.

    Dan kisah dongeng kebangkitan PKI pun terus berlanjut pada bagian ke dua.

    Penulis
     The G

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    2 comments:

    Item Reviewed: Menguak Hoax Jokowi Keturunan PKI (Bag. 1) Rating: 5 Reviewed By: doddy goentoro
    Scroll to Top