• Latest News

    Kartu Kuning Buta Norma

    “KARTU KUNING” BUTA NORMA"
    Ini cuma buat anak muda pengacung kartu kuning.
    Boleh jadi, sebagian orang bilang kamu hebat, keren, berani dan sejenisnya. Dan sangat mungkin juga sebagian orang tadi, persis seperti kamu pula; “buta norma”. Ya, buta norma.
    Kamu tahu apa itu norma? Izinkan saya memberi tahu.
    Norma itu aturan, norma itu kaidah. Bersifat mengikat, termasuk anak kampus seperti kamu. Karena norma, hidup kita jadi ada tatanan; ada kendali dalam bertingkah laku, di antara yang pantas dan tidak pantas.
    Anak muda. Kalo urusan mencetak orang pintar, bangsa ini sudah sangat mahir. Dan itu tidak perlu lahir dari kampus. Kalo urusan mencetak orang pemberani, bangsa ini pun banyak yang pemberani. Pergi dan bergaulah dengan tukang daging di pasar, hidupmu akan sangat berani dan penuh darah. Kalo urusan pengen jadi orang keren, bangsa ini pun bejibun orang keren. Di senayan ada, di televisi banyak, dan kalo mau lebih banyak lagi pergilah ke tempat wisata.
    Tapi sayang anak muda. Semua orang pintar, orang berani, dan orang keren yang kamu temui itu persis seperti kamu, “buta norma”. Alias buta aturan. Persis seperti kamu dan sebagian orang yang bilang kamu keren.
    Kenapa kamu buta norma?
    Karena kamu sendiri tidak tahu cara menggunakan “kartu kuning”. Kamu patut tahu, anak muda. Di dunia olah raga, kartu kuning itu “boleh digunakan” dengan dua syarat. Satu, karena ada pelanggaran. Dan kedua, dikeluarkan oleh pengadil alias wasit. Nah, kamu siapa? Lalu, apa pelanggaran yang kamu maksud? Di situlah, kamu buta norma.
    Cukup jelas anak muda?










    Buat saya belum. Kamu memang buta norma. Kartu kuning, atau bahkan kartu merah itu punya arti bila ada di pertandingan. Kamu sedang bertanding di mana? Dan siapa lawan kamu? Negara kamu, atau presiden kamu? Atau kampus kamu sendiri? Ahh, kamu itu buta norma anak muda. Kamu lupa anak muda. Semua tim yang “bertanding” itu tujuannya meraih kemenangan. Dan tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk mencederai lawannya, apalagi rakyatnya.
    Anak muda. Buat saya, kartu kuning bahkan peluit kamu sama sekali tidak berguna.
    Karena kamu “buta norma”. Kamu tidak tahu aturan dalam sebuah pertandingan. Kamu tidak bicara apa-apa. Mungkin kamu tidak tahu apa-apa. Sama sekali, tidak ada isu yang “membumi” yang kamu utarakan. Sayang anak muda, jika kamu berlelah-lelah untuk sensasi bukan esensi.
    Berhati-hatilah, anak muda.
    Saya khawatir, kamu jadi manusia yang “terlalu keras berteriak mulut ketimbang berjibaku pikiran”. Lebih dari itu, jangan-jangan kamu lebih suka berdiskusi dan ngomongin orang tanpa pernah mau membaca buku atau berbuat nyata.
    Sekali lagi, kamu buta norma, anak muda.
    Kamu kuliah di kampus negeri. Tapi kamu lupa berterima kasih kepada negeri ini.
    Belajarlah lagi, anak muda.
    Agar kamu tahu. Hidupmu bahkan negaramu bisa baik bukan hanya ditentukan oleh kartu yang baik. Tapi kita butuh cara dan norma untuk memainkan kartu buruk dengan baik.
    Anak muda pengacung kartu kuning.
    Ali bin Abi Thalib yang bilang. “Kalau kamu tidak ingin susah, maka jangan menyusahkan orang lain”. Itu sudah cukup … Selamat "bertanding" lebih keras lagi anak muda dan tak akan pernah ada "kartu kuning" untukmu ...




    Penulis: Syarif Yunus

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Anda telah membaca Kartu Kuning Buta Norma Rating: 5 Ulasan oleh doddy goentoro
    Scroll to Top