• Latest News

    Review Film A Man Called Ahok "belum terjawab kenapa A Man Called Ahok" (2018)

    Film A Man Called Ahok adalah penggalan kecil dari kisah panjang Ahok. Hampir lebih dari separuh film sebenarnya lebih banyak mengisahkan bapaknya Ahok..Kim Nam
    Film yang yang disutradarai Putrama Tuta ini memang berhasil menarik minat para pendukung atau penngemar mantan orang no 1 di Ibukota
    Dengan deretan panjang para pemainnya karena para aktor aktris yang memainkan dengan waktu yang berbeda yaitu saat ketika masih muda dan saat telah lanjut usia dimainkan oleh tokoh yang berbeda, bukan dengan efek make up.
    Demikian deretan para pemain film A Man Called Ahok
    1. Daniel Mananta sebagai Ahok dewasa
    2. Eric Febrian sebagai Ahok remaja
    3. Denny Sumargo sebagai Kim Nam ayah Ahok dimasa muda
    4. Chew Kin Wah sebagai Kim Nam ayah Ahok ketika sudah tua
    5. Jill Gladys sebagai Fifi adik Ahok setelah dewasa
    6. Eriska Rein sebagai ibunda Ahok masa muda
    7. Siti Nursanti sebagai ibunda Ahok masa tua









    Kisah yang tertuang dalam film ini sesungguhnya sangat inspiratif, bahwa Ahok yang begitu fenomenal itu tidak lahir sekonyong konyok tapi memang sudah terbentuk dari didikan sang ayah.
    Sayangnya dalam film ini hubungan yang kuat antara ayah dan anak belum begitu nampak kuat keluar mengharu birukan penonton.
    Film dengan ritme sedang ini sebenarnya  enak dinikmati dgn santai meski lompatan lompatan waktu dalam kisahnya terasa sangat jauh dan terasa ada mata rantai yang hilang. Kisah yang sangat menarik tapi dengan eksekusi yang masih tanggung.

    baca juga Review Film Pengabdi Setan (2017)

    Dari sudut mata penulis banyak sekali adegan adegan yang mampu membuat rasa haru yang terdalam sayangnya seperti lewat begitu saja. Awalnya kita sudah disuguhi suara Ahok yang meminta para pendukungnya untuk membubarkan diri, suasana memang mulai menghangat..lalu dilanjutkan kisah kedermawanan Kim Nam ayah Ahok, Adegan sudah terambil dengan baik tapi kehadiran Ahok masih sangat pasif. Baru ketika Ahok mulai beranjak dewasa superioritas Ahok mulai terangkat, tapi konflik konflik yang seharusnya mampu   mengambarkan Ahok yang berwatak keras belum tergambar secara utuh, seperti ketika ada  pejabat  yang meminta fee kepada perusahaan tambang milik ayahnya seperti yang dialami ayahnya dulu masih jauh dari realita "pemahaman nenek lo..! khas Ahok.
    Juga ketika "jangan  pilih Ahok" dalam pemilihan Bupati di Belitung Timur hanya digambarkan dengan adegan ala kadarnya. Mungkin ada pertimbangan pertimbangan tertentu hingga kisah dalam film ini terasa soft untuk kisah Ahok yang kontroversional.
    Meskipun begitu film ini masih enak kok dinikmati banyak nilai nilai yang bisa kita ambil.Suasasa masa lampau cukup terambil dengan baik, meski kondisi Belitung Timur belum terekam dengan lengkap.
    Para pemeran film sudah beraksi dengan baik terutama Daniel Mananta, sosok Ahok cukup tergambar dari aktingnya yang matang. Humor humor cerdas juga mampu mengisi kisi kisi kosong dalam film ini. Masih film yang enak dinikmati meski sebenarnya masih banyak ruang untuk dikembangkan.

    Entahlah penulis seperti merasakan ada sesuatu yang menahan film ini untuk  dikemas keras..

    Penulis

    The G



    Next
    This is the most recent post.
    Older Post
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Anda telah membaca Review Film A Man Called Ahok "belum terjawab kenapa A Man Called Ahok" (2018) Rating: 5 Ulasan oleh doddy goentoro
    Scroll to Top