• Latest News

    Film "Di Balik '98" Kisah Reformasi Terkisah Lembut

    Film Di Balik 98 Kisah Reformasi Terkisah Lembut

    Film Di Balik 98  (2015) adalah besutan tunggal dari Sutradara Lukman Sardi untuk jenis film layar lebar, memang sebelumnya Lukman Sardi pernah menyutradarai film pendek di tahun di tahun 2009 yang berjudul Sang Penjahit, selebihnya Lukman Sardi lebih dikenal sebagai aktor yang lumayan mempuni di ranah perfilman Indonesia, meskipun demikian film Di Balik 98 ini mampu memberikan penghargaan kepada beliau di tahun 2016 dalam ajang Indonesia Box Office Movie Awards, sebuah prestasi yang gak kecil.

    sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Lukman_Sardi
    Film yang di bintangi dengan banyak aktor aktris kawakan ini sebut saja seperti Chelsea Islan, Boy William, Ririn Ekawati, Arief Lufty , Amoroso Katamsi, Donny Damara, Agus Kuncoro dan masih sederet aktor aktris yang turut berperan di film ini.
    Film di Balik 98 ini adalah film berkisah fiktif dengan larar belakang sejarah Reformasi di tahun 1998. Penulis meskipun bukan pelaku sejarah reformasi tetapi adalah saksi sejarah yang pernah merasakan denyut Reformasi di tahun 1998. Menyaksikan film ini seberti memutar kembali tentang kenangan dimana peristiwa heroik ini pernah berlangsung.
    Film yang disajikan dengan irama cukup kencang di awal film mampu memberikan denyut kencang di setiap scene scene awalnya. Meskipun dari peristiwa sejarah film ini telah melaampui waktu 17 tahun tapi suasana 1998 apik disajikan dengan cukup teliti. Properti properti saat itu di tahun 1998 bisa ditampilkan lagi di tahun 2015 itu sebuah usaha kerja keras pastinya. Sebut saja yang paling remeh adalah rumah berdinding seng berkarat di tahun 1998 itu memang lazim ditemukan di daerah pinggiran kali Ciliwung.
    Suasana heroik saat itu cukup rapih terbangun meskipun ditampilkan dengan lembut, suasana demonstrasi mahasiswa yang panas cukup bisa ditampilkan dengan apik, meskipun penulis pernah bener bener merasakan bahwasanya demontrasi Mahasiswa saat itu lebih panas berkali kali lipat dari yang ditampilkan di film ini, demikian juga dengan suasana kerusuhan, penjarahan massal persekusi dan kekerasan terhadap keturunan Tionghoa bener bener disajikan dengan lembut meskipun memberikan getar kengerian. Penulis pernah merasakan begitu mencekamnya saat itu, bagaimana heli heli militer berseliweran begitu rendah hingga angin baling baling bisa dirasakan, bagaimana berita pada saat itu begitu berganti cepat dari waktu ke waktu, kecemasan luar biasa karena anggota keluarga belum pulang dari sekolah, meskipun  menyaksikan kerusuhan hanya dari balik layar televisi tapi melihat sendiri dengan mata kepala sisa sisa kerusuhan menunjukkan begitu dasyatnya kerusuhan itu terjadi. Bahwa ada penjarah yang mati terpanggang di dalam toko yang mereka jarah akibat terkunci di dalamnya tidak ditampilkan di film ini,
    Menariknya film ini juga menyajikan cukup detail roman wajah pak Harto menjelang "Lengser Keprabon" Amoroso Katamsi yang memang cukup piawai memerankan Pak Harto ini  sangat menjiwai perannya, Diktator 32 tahun ini ditampilkan dengan halus dan lembut, sorot matanya yang cemas didalam pesawat sepulang dari Kairo Mesir yang dipercepat, pertemuan dengan para tokoh hingga terucap kata  "Saya kapok jadi Presiden" hingga detik detik turunnya beliau yg sempat ditampilkan kegalauannya hingga hampir melupakan peci yang biasa dipakai hingga akhirnya diingatkan mba Tutut anaknya yang mendampingi beliau. Hampir tidak ada kesan yang cukup bahwa beliau adalah orang yang pantas diturunkan karena gaya kekuasaan militeristiknya selama 32 tahun.
    Jadi jangan berharap sebuah kisah heroik ada di film ini karena film ini menampilkan latar belakang sejarah reformasi dengan lembut, hampir tidak ada tokoh antagonis sepanjang  ceritanya.
    Lalu bagaimana kisah fiktif yang sesungguhnya ingin disajikan di film ini, ada tema pokok dalam cerita di film ini yang mana mengisahkan dilematisnya kakak dan adik iparnya dengan posisi berlawanan, dimana seorang adik ipar  Diana yang diperankan Chelsea Islan seorang mahasiswa reformis dengan kakakn iparnya Bagus ( Donny Alamsyah )  seorang ABRI yang bertugas mengamankan situasi saat itu, ditambah dengan posisi kakak dari Diana (Chelsea Islan) yang diperankan oleh Ririn Ekawati yaitu seorang yang bertugas di dapur Istana. yang di gambarkan sedang hamil tua. Juga ada konflik tambahan drama percintaan Diana dan Daniel ( Boy William ) yaitu seorang keturunan Tionghoa dimana keluarganya adalah korban kerusuhan Mei saat itu.
    Hampir tidak ada konflik yang berarti sebenarnya meski sempat ditampilkan keras ketika Bagus dan Diana saling berhadap tatap di depan gedung MPR.
    Oya ada pernik menarik di dalam film ini yaitu kisah pemulung pincang dengan anaknya, sempat menampilkan humor getir dimana mreka menyangka keberadaan banyaknya tentara adalah hari dirgahayu ABRI dan berharap pembagian nasi bungkus dan digambarkan bagaimana sang anak kehilangan bapaknya akibat kerusuhan.
    Meski tanpa konflik yang tajam tapi film ini ditampilkan sangat menarik visualisasi yang keren, dipadu sinematografi yang aduhai..suntingan, tata musik , tata suara serta artistik yang menawan membuat film ini sangat mewah disaksikan.
    Secara umum film Di Balik 98 ini nyaman untuk di tonton, bahwa ada fakta sejarah yang tidak ditampilkan utuh penulis bisa memaklumi karena film ini hanya berlatar belakang sejarah bukan sejarahnya yang jadi tema utamanya, dan sangat mungkin untuk menghormati tokoh tokoh fakta sejarah Reformasi sehingga film ini dibuat kalem. Tidak berlebihan film ini meraih penghargaan  Indonesia Box Office Movie Awards dengan Lukman Sardi sebagai Sutradara terbaik, 
    eksekusi film ini sangat baik sayangnya dengan hasil sebaik ini Lukman Sardi belom menyutradai lagi film baru, penulis yakin hasilnya bisa lebih baik.

    Diluar kebiasaan penulis sebenarnya ingin memberikan video utuh film ini tapi belum menemukan cara mengupload film kedalam blog ini karena ternyata limitnya hanya 100 mega, next akan penulis coba menyertakan film utuhnya, di lain waktu.









    Penulis
    The G







    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Anda telah membaca Film "Di Balik '98" Kisah Reformasi Terkisah Lembut Rating: 5 Ulasan oleh doddy goentoro
    Scroll to Top